Orang Tua Bukanlah BANK, Apalagi. . . dst

“Ayo cepat berangkat, nanti kesiangan lho!”, ujar seorang bapak kepada anaknya. Setelah selesai menikmati sarapan paginya, sang anak menjawab, “uang bensinnya mana ?”. Hal ini merupakan hal biasa yang dilakukan oleh orang tua dan anak pada setiap harinya. Orang tua akan membantu segala kebutuhan anaknya untuk sekolah, dari alat – alat tulis, seragam sekolah, uang SPP sampai dengan sangu. Dengan asumsi seperti ini, orang tua telah memberikan “segalanya” demi kemajuan dan semangat si anak. Tapi apakah hal ini sudah benar ?. Berikut kita lihat dari sudut pandang si anak.

Berangkat sekolah tiap pagi, lalu terkadang pulang sampai sore jika ada les atau pelajaran tambahan. Bila tidak ada tugas, sepulang di rumah masih bisa menyempatkan diri untuk bermain dengan teman. Tapi bila tugas cukup menumpuk, biasanya sikap otoriter orang tua mulai bergerak. Tidak ada waktu sela untuk bermain. Kami pun manut saja, asalkan uang saku tetap atau minta tambahan biar lebih terpacu prestasinya. Atau malah kami bisa memanfaatkan orang tua dengan alasan bayar ini – bayar itu. Kami menyadari orang tua itu mencari uang banting tulang, tapi terkadang saat kami pulang sekolah dan masih lelah, serta orang tua pun sama barusan pulang kerja, biasanya kami hanya disuruh – suruh ini dan itu. Laksana raja dan ratu di rumah. Dan kami hanyalah seorang budak pendidikan, karena sikap inilah, terkadang kami akhirnya berpikir, sekolah hanya untuk uang. Malah terkadang orang tua sampai memberikan tekanan yang berujung iming – iming, misalkan hadiah bila prestasinya sesuai yang diinginkan orang tua. Ini memberikan tekanan batin yang cukup berat dan entah berantah hasilnya. Akibatnya, kami hanya tahu sekolah saja dan kami tidak tahu hal lain. Bagaimana nanti kami kerja bila wawasan hanya sekolah saja?

Meskipun begitu, orang tua punya landasan pemikiran tersendiri. Kami sebagai orang tua, punya hak untuk mengarahkan anak – anak dalam penggapaian cita – cita. Mulai dari menyiapkan dana pendidikan sampai dengan sekolah – sekolah unggulan yang nantinya akan ditapaki oleh sang anak. Ini bukanlah hal mudah, sebab semakin tinggi tingkat pendidikan, biayanya pun semakin besar. Untuk itu, terkadang kami harus mempunyai pendapatan ekstra agar mencukupi semua itu. Tugas seorang anak hanyalah belajar, sampai mereka siap memasuki dunia pekerjaan dan mempunyai keluarga sendiri. Kami bekerja keras, sudah sewajarnya anak pun sama.

Keduanya punya alasan yang cukup masuk akal. Tapi apakah harus melalui ketimpangan?. Sebenarnya tidak asalkan komunikasi antara sang anak dan orang tua cukup lancar. Apa yang dimau si anak dan bagaimana yang diharapkan orang tua harus jelas. Orang tua memang punya program untuk membesarkan si anak, tapi ingat si anak juga punya pilihan sendiri.

***Agus Muhajir. (Kendal, 19 Januari 2006).

  1. #1 by zohan on October 6, 2010 - 7:23 am

    postingannya , berdasarkan cerita hidupnya sendiri ya pak..
    postingan yang berisi .
    mungkin perlu di selesaikan/diperjelas postingannya lagi pak,
    biar tambah ngerti yang baca.

    Like

  2. #2 by hajirodeon on October 7, 2010 - 4:03 pm

    ha… ha …

    gak nyampe 100%, bener pengalaman pribadi.

    iya tuh, tulisan lama.
    banyak yang hilang, di komputer.

    maklum sih, hampir tiap hari punya ide nulis…

    ntar aq perbarui aja lagi, dengan judul beda…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: